Bersepeda Keliling Dunia (Seri OBSESI: 4.1)

4. TAK SEKADAR BERTEORI (1)

FAUNA MELANJUTKAN pendidikan ke SMA Negeri I Serang. Di lembaga pendidikan negeri ini, gejolak jiwa kepetualangannya makin menggelora. Untunglah jika kesadaran dirinya lebih kuat, sehingga kemauan untuk belajar di kelas dapat terlaksana dengan baik.cover fauna fb

Sekurang-kurangnya, hal yang membikin jiwa kepetualangan Fauna begitu menggelora disebabkan bahwa secara diam-diam ia telah menjatuhkan pilihan! Ya, pilihan. Pilihan itu untuk menguatkan obsesi bahwa ia ingin berkeliling dunia dengan kendaraan sepeda. Ya, sepeda!

Sepeda, salah satu alat transportasi yang super hemat lagi menyehatkan. Begitu pandangan awal Fauna. Mengendarai sepeda, yang paling dibutuhkan adalah kemahiran dan tenaga.

Untuk memperoleh kemahiran yang dibutuhkan bersepeda sesering mungkin agar keseimbangan di atas sepeda terlatih dan terjaga selalu (terlatih secara instingtif).

Sedangkan untuk tetap bertenaga, diperlukan cara untuk mengatur stamina sehingga tubuh tidak mudah lelah, sehat selalu, dan tetap bugar. Berarti, ketahanan tubuh perlu diuji. Berarti pula, berlatih menjadi kuncinya. Begitulah kira-kira teori dia.

Meski niatnya makin kuat hendak keliling dunia, namun Fauna mengira bahwa untuk mewujudkannya tidaklah gampang. Selain fisik dan mental dari diri sendiri, namun juga dukungan luar diri terutama ayah dan ibu harus diperoleh.

Belum lagi untuk melintasi luar negeri mesti dilengkapi surat-perjalanan. Hal lainnya masalah kebahasaan yang harus dikuasai karena sebagai alat komunikasi.

Tantangan-tantangan lain tentu masih banyak lagi. Fauna yang masih tergolong remaja itu sadar, bahwa tak semua orang akan mudah percaya dengan obsesinya.

Apalagi, niat Fauna keliling dunia dengan transportasi sepeda. Hal ini menurut Fauna akan dipandang orang tidak tepat bahkan dianggap sebagai ide gila.

Hal semacam itulah yang kemudian menjadi beban tersendiri dalam kalbu Fauna. Oleh karenanya, untuk sementara waktu, keinginan itu dipendamnya dalam-dalam di lubuk kalbu sendiri. Namun, diam-diam di kala senggang alias libur sekolah, Fauna mencari pengalaman dan pengetahuan melalui kedutaan-kedutaan besar luar negeri di Jakarta dan beberapa kantor radio asing baik perwakilannya di Jakarta maupun langsung berkirim surat ke kantor pusat.

Gambar Peta

Gampab peta antara lain yang seperti ini yang diproleh Fauna dari kedubes asing di Jakarta

Dari beberapa kantor kedutaan dan kantor stasiun radio asing, Fauna memperoleh buku, brosure, foto-foto, gambar-gambar serta peta, dan profile suatu negara asing.

Hal itu dipelajarinya dengan cermat. Hal-hal yang dianggap penting pun dihafalnya. Sedangkan berkas-berkas yang juga dianggap penting disimpanya pada sebuah file map untuk dijadikan bekal dasar dalam misi around the world (keliling dunia).

Mengenai kendaraan untuk mewujudkan impian mengitari bumi memang telah ditentukan oleh Fauna yakni sepeda. Akan tetapi, ia tidak ingin mengorbankan sekolah. Ia ingin menamatkan SMA karena ini sebagai salah satu bukti penghormatan kepada kedua orang tua.

Ya! Pernah disinyalkan sang ayah yaitu Pak Sukra Prawira kepada Fauna bahwa paling tidak anak-anak dalam keluarga ini serendah-rendahnya harus lulus SLTA.

Fauna sangat menjunjung tinggi perihal pendidikan tersebut. Oleh karenanya, ia belum mau mengutarakan obsesinya untuk keliling dunia kepada ayah, ibu, dan keluarga lainnya. Bahkan, untuk mematangkan teori bersepeda, ia belum mau menunjukkan sesuatu yang mengesankan kepada bentu-bentuk misi around the world. Tunggu saja setelah tamat SMA, desis dia.

Fauna, adalah sosok seorang remaja yang tergolong patuh kepada kedua orang tua. Karena itulah mungkin, kenapa dia kemudian sama sekali tidak berniat mengecewakan keduanya. Ia bahkan merasa tak sampai hati manakala ayah ibunya merasa kecewa pada dirinya.

Oleh sebab itulah, sebesar apapun obsesi yang sudah bersemayam di kalbu, ia berupaya menekannya sekuat daya. Untuk sementara, obsesi berkeliling dunia itupun dijadikan Fauna bagian dari cita-cita.

Dengan menempatkan obsesi sebagai bagian cita-cita, justru Fauna seakan memdapatkan kemampuan baru untuk mengutamakan pelajaran-pelajaran sekolah. Lambat laun, hal ini menjadi pendorong baginya untuk lebih cepat memahami pelajaran yang diterangkan bapak-ibu guru di kelasnya. Utamanya dalam hal pelajaran Bahasa Inggris dan Geografi.

Selama ini, Fauna sudah paham bahwa bahasa Inggris merupakan bahasa internasional. Apa bila mampu berbahasa Inggris, tentu akan memudahkan komunikasi dengan orang lain di negara manapun.

Begitulah Fauna berpendapat. Oleh karenanya pula, berbicara menggunakan bahasa Inggris dirasakannya makin penting saja. Bukankah Fauna diam-diam telah menetapkan niat untuk melakukan perjalanan panjang melintasi berbagai negara di dunia?

Pada sisi lain, Fauna memang semakin gemar bersepeda. Ia tak pernah khawatir bila sewaktu-waktu sepedanya mengalami kerusakan dalam perjalanan. Ia yakin, bekalnya di bengkel sepeda Pak Memed doeloe telah membuatnya mampu membetulkan sepeda bila misalnya sepedanya mengalami kerusakan.

Sejak kelas empat SD Fauna sudah menimba pengetahuan tentang memperbaiki sepeda. Pengalaman itu, ia pikir sudah cukup menjadi salah satu bekal di perjalanan, sekalipun kelak menempuh perjalanan panjang mengelilingi dunia.

Hari-hari libur sekolah, kalau kebetulan kegiatan kepramukaan sedang kosong, menjadi waktu yang dinanti-nanti Fauna. Ia ingin mengayuh sepedanya dalam rangka menjajal ketahanan fisik, sekaligus melakukan perhitungan berdasarkan kemampuan dan kecepatan laju sepeda yang ditungganginya. Untuk melatih kemahiran, sudah pasti lha yaw….!

Dalam rangka itu ia ingin bersepeda ke luar dari Kota Serang. Ia bahkan ingin menempuh jarak puluhan hingga ratusan kilo meter. Kalau hanya mengitari kota sudah sangat sering dilakukan Fauna pada hari Minggu pagi atau tatkala jalan sore-sore.

Lintasan

Salah satu lintasan berlatih Fauna di Kota Serang dalam rangka mengetahui jarak tempuh

Cukup sudah berlatih dalam kota. Kini keinginannya menjelajah ke luar kota walau belum terlalu jauh, seperti Pantai Merak, Pantai Anyer, Pantai Carita, dan memutar ke Labuhan Pandeglang atau sekalian ke Jakarta yang jarak tempuhnya mencapai 200 km pergi dan pulang.

Memasuki liburan semester pertama kelas satu SMA, mulailah Fauna mendalami pelajaran geografi, khususnya berkaitan dengan gambar-gambar peta. Gambar peta Kabupaten Serang, Propinsi Jawa Barat, dan Propinsi DKI Jakarta, mulailah ia hitung-hitung jarak kilometernya.

Biasanya, dalam gambar sebuah peta wilayah, ditemukan skala yang berfungsi sebagai informasi pengukuran jarak antar daerah atau luas suatu wilayah. Misalnya, gambar peta berskala 1 : 1.000 (satu banding seribu), 1 : 10.000 (satu banding sepuluh ribu), 1 : 1.00.000 (satu banding seratus ribu), 1 : 1.000.000 (satu banding satu juta) dan sebagainya.

Bersambung ke 4. Tak Sekadar Berteori (2)

Tanggapi posting ini