3
Menjiwai Kepramukaan (2)
Salah satu kegiatan yang dipandang Fauna akan dapat membantu demi terwujudnya impian itu adalah kepramukaan. Kegiatan ekstra kurikuler terkait sekolah ini, ia rasa-rasakan begitu dekat dengan kehidupan sosial generasi muda, kebangsaan, cinta alam, keberanian demi kebenaran, termasuk tentang kepetualangan di alam lepas. 
Disebabkan pandangan demikian, akhirnya Fauna tidak ingin absen dalam kegiatan pramuka.
Masa-masa di Tingkat Siaga dan Penggalang pada Pramuka di Gugus Depan 02/07 yang bermarkas di sekolahnya, Fauna belumlah terlalu menghayati makna yang terkandung dalam kepramukaan. Meski begitu, semenjak mengenal kepramukaan enam atau tujuh tahun silam (saat SD), jiwa kemandirian Fauna telah tumbuh dalam kehidupannya sehari-hari.
Fauna, tak lagi bermanja-manja dan merengek-rengek untuk mendapatkan uang jajan. Akan tetapi, ia sudah mampu berusaha untuk mencari uang jajan sendiri, sekaligus mampu membayar iuran pramuka dan sebagian kebutuhan sekolahnya tanpa meminta uang orang tuanya.
Setelah lulus SMP —sebagai Penegak dalam anggota pramuka— makna yang terkandung dalam kegiatan kepramukaan telah mampu dihayati Fauna secara lebih dalam.
Kepramukaan, telah dirasakannya sebagai kegiatan yang menyenangkan. Bahkan, acara-acara kepanduan rasanya sesuai dengan perkembangan jiwa remaja dan rasa kebangsaan, serta ditemukan suatu keinginan untuk belajar berpetualang di alam terbuka seperti acara mencari jejak dan berkemah.
Mulai saat itulah Fauna merasa sangat suka bahkan cenderung berharap agar mendapatkan tugas dari kakak-kakak yang lebih senior di gugus depan pramukanya. Ia tak memilih-pilih tugas yang diberikan. Bagaimanapun beratnya tugas yang diembankan, Fauna berusaha keras mengerjakan dengan baik dan penuh rasa tanggung jawab.
“Saya malah kadang sedih, kalau tidak memperoleh tugas dari yang lebih senior. Apalagi kalau sampai saya dinilai tidak mampu padahal tugas itu belum diberikan. Wah, rasanya saya terhina dan malu sekali,” tukas Fauna.
Oleh karena itu, Fauna kemudian berusaha terus untuk aktif baik di gugus maupun sering-sering berkunjung ke kwartir ranting (kwaran) bahkan kwartir cabang (kwarcab). Keaktivan ini dimaksudkan Fauna agar ia selalu memperoleh tugas.
Dalam tugas apapun di kepramukaan, merupakan syarat bagi anggota pramuka dalam rangka mencapai tingkat kemahiran, termasuk mengisi penuh SKU (Syarat Kecakapan Umum). Ia menjadi senang bila dapat tugas, dan dirasakannya sebagai tantangan yang harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya.
Tantangan dalam kegiatan pramuka, bahkan dirasakan Fauna begitu terbuka. “Banyaknya tantangan itulah yang membuat saya semakin menyenangi kepanduan,” ungkap Fauna.
Kemudian ia bertutur, seberat apapun tantangan, sebagai anggota pramuka dirinya harus siap mencari jalan keluar dengan selamat. Alasan dia, secara kepribadian anak pramuka itu dididik sebagai insan yang pantang menyerah.
Lantas, Fauna pun berkisah bahwa dalam cerita-cerita kepetualangan anak manusia, sikap pantang menyerah itu adalah bagian terpenting. Pada bagian lain, sikap pantang menyerah harus diiringi dengan strategi yang tepat serta disiplin yang ketat.
“Tanpa strategi dan disiplin dalam menghadapi tantangan, apa jadinya?” cetus Fauna.
Bila telah berbicara strategi, menurut pandangan Fauna, berarti yang tidak boleh ditinggalkan adalah berpikir cepat dan cermat untuk mendapatkan jalan keluar yang tepat dan selamat. Sedang yang namanya disiplin, merupakan pengaturan irama dan langkah dengan penuh perhitungan, termasuk dalam ketepatan waktu, penjagaan stamina tubuh, serta menjaga keyakinan diri untuk mampu keluar dari tantangan yang dihadapi dengan sukses.
Sebagai seorang remaja dan anggota Pramuka Indonesia, Fauna, sejak jauh-jauh hari berusaha pula menghayati makna pantang menyerah dan disiplin. Lain itu, yang selalu dan selalu dilatih pada dirinya adalah cara berpikir cepat dan cermat.
Oleh sebab itulah ia selalu terdorong untuk mendalami berbagai teori yang berhubungan dengan ilmu hitung; baik berkaitan dengan matematika, ilmu pengetahuan alam, maupun hal-hal terkait dengan jarak tempuh, lingkungan alam, sosial dan budaya, juga termasuk medan yang hendak dilalui dan sebagainya.
Tak ubahnya belajar di kelas, sebagaimana yang dialami Fauna menunjukkan bahwa dalam dunia kepramukaan selain diajarkan keberanian dan kedisiplinan juga diajarkan mengenai pengembangan kemampuan dan ketrampilan dari diri masing-masing.
Belajar di kelas maupun melalui kegiatan kepramukaan, sama-sama memiliki daya saing guna pencapaian prestasi. Bedanya, belajar di kelas persaingan lebih ditunjukkan dalam nilai di atas kertas, sedang di dunia kepanduan lebih terbuka yaitu persaingannya lebih banyak dalam segi-segi tindakan nyata dalam kehidupan sosial.
Setidaknya, pemahaman semacam itu ditemukan Fauna dari guru olah raga di SMP Mardi Yuana yaitu Pak Tata. Fauna sering bersama guru olah raga ini bersepeda bersama, dan kadang-kadang mereka bersama-sama memancing ikan di Sungai Ciketing Serang
Memang, kegiatan-kegiatan kepramukaan lebih menitik beratkan pada kegiatan luar kelas. Misalnya belajar baris berbaris, sandi-sandi, belajar ketrampilan seperti membuat kerajinan anyam-anyaman, tali-temali, seni pertunjukan, bernyanyi, berorasi (pidato), hingga belajar langsung di alam terbuka semacam cari jejak, dan acara-acara yang langsung berhadapan dengan alam termasuk berkemah.
Dengan banyaknya acara di luar kelas dalam kepramukaan, Fauna merasakan sesuatu yang cocok dengan dirinya. Melalui kepramukaan, rasanya jiwa kepetualangan sedikit demi sedikit tersalurkan juga. Dengan begitu, keinginan Fauna untuk belajar banyak mengenai alam terbuka semakin menggelorakan obsesinya agar kelak mampu mengelilingi bumi.
Sejauh itu Fauna tetap menyadari bahwa tugas utama dirinya adalah belajar di kelas. Ini tetap ia pandang sebagai hal terpenting. Oleh karenanya, walau ia mengaku sangat suka kepada kepramukaan, tetapi pelajaran-pelajaran di sekolah menjadi prioritas (yang utama).
“Tidak ada pilihan yang lebih utama selain mendahulukan prestasi di kelas! Pelajaran yang diberikan guru di kelas jangan sampai diabaikan.” Begitu Fauna menetapkan pilihan.
Ia bilang, kenaikan kelas serta kelulusan dalam ujian dengan nilai yang bagus merupakan hal penting. Bahkan prestasi di kelas dipandang Fauna akan mempengaruhi prestasi dalam kegiatan kepramukaan. Oleh karena itu, ia selalu berusaha agar nilai-nilai di setiap mata pelajaran bagus, tidak jeblok.
Pelajaran di kelas bagi Fauna tidak tergantikan dengan apa pun. Sedangkan kegiatan kepramukaan telah disadari Fauna sebagai pelajaran tambahan luar kelas dan sifatnya mendorong kesungguhan belajar untuk menggapai prestasi di dalam kelas. Begitu dalamnya Fauna menjiwai pentingnya ilmu. Dan yang penting harus didahulukan….
Kepandaian membagi waktu merupakan kecerdasan tersendiri. Hal itu terlihat pada diri Fauna. Untuk mendahulukan yang penting berarti juga seseorang harus bisa menjadwal mana waktu untuk belajar dan mana untuk kegiatan lain. 
Oleh karenanya, meskipun saat kelas tiga SMP Fauna tetap ikut kegiatan pramuka, tetapi dirinya disiplin dalam membagi waktu untuk belajar pelajaran kelas dan mana untuk dipakai kegiatan pramuka.
Pernah sekali waktu Fauna harus memperoleh pengalaman dalam membagi waktu. Setamat SMP, karena cintanya pada kegiatan pramuka, Fauna tetap ikut kemah pramuka.
Sementara dalam waktu yang hampir bersamaan, ia harus ikut tes masuk SMA Negeri I Serang. Maka dari tempat kamping, ia harus mengejar waktu pada pagi harinya untuk tes masuk SMA. Hal demikian tidak dilakukan oleh teman-teman anggota pramuka yang lain.

Dari sebuah kemah pramuka, Fauna langsung mengikuti ujian masuk SMAN 1 Serang
Kesiapan ujian masuk SMA, sudah dipersiapkan Fauna sejak waktu masih senggang. Ia pelajari berbagai soal ujian masuk SMA sebelum acara kemah pramuka dilaksanakan. Oleh karenanya, tidak menjadi soal baginya meski harus mengejar ujian masuk berangkatnya dari tenda pramuka.
Ternyata, Fauna lulus dan diterima melanjutkan pendidikan di SMA Negeri I Serang. Sedang mereka yang tidak ikut kamping pramuka ternyata lebih banyak yang tidak diterima di SMA tersebut.
Bersambung: 4 Tak Sekadar Berteori