Bersepeda Keliling Dunia (Seri OBSESI: 3.1)

3
MENJIWAI KEPRAMUKAAN (1)

TAMAT SEKOLAH dasar Fauna melanjutkan pendidikan di lingkungan lembaga yang sama; SMP Mardi Yuana, yaitu sekolah favorit dan dikenal sebagai sekolahan anak pejabat.

Bedanya, Fauna tak jalan kaki lagi. Pergi dan pulang sekolah ia sudah menggunakan sepeda. Lancar ? Tentu saja. Adalah sepeda yang diperoleh Fauna dari keringat sendiri. Sepeda yang dibeli karena ia rajin menabung, bukan diperoleh dari merengek-rengek manja.cover-alt-copy1

Setidaknya, dengan bersepeda itu Fauna lebih mampu membuang rasa rendah dirinya. Keinginannya punya sepeda, terpenuhi sudah. Hebatnya, sepeda diperoleh dia bukan dari hasil rengekan atau memaksa orang tua melainkan dari keringat dan uang tabungan sendiri. Kerja keras dia selama ini telah tampak hasilnya di hadapan keluarga, tetangga, maupun teman-teman.

Fauna tidak merasa malu atau risih tatkala menenteng termos es serta menawarkan dagangannya kepada calon pembeli yang bertebar di stasiun kereta api. Ia pun tak merasa malu saat belepotan oli karena ikut mereparasi sepeda di bengkel Pak Memed. Semua itu dilakukan Fauna demi memperoleh penghasilan yang halal.

Menurut dia, untuk mengubah nasib tidaklah cukup dengan merengek-rengek alias bermanja diri; Mengubah nasib sangat memerlukan ketekunan, disiplin, dan kerja keras. Akan tetapi harus ditempuh dengan cara-cara yang baik lagi tidak melanggar ketentuan agama maupun adat dan hukum negara.

“Nasib kita ini bisa diubah dengan kesungguhan, kok. Yang terpenting jangan bermalas-malasan bila kita punya keinginan,” cetus Fauna yang juga selalu berusaha agar tidak terjebak dengan pemborosan keuangan.

GBR 6a“Kita harus pandai-pandai menyesuaikan antara yang kita dapatkan dengan yang dikeluarkan,” tambahnya. Ia pun mengingatkan sebagai insan jangan sampai terlibat dengan yang sifatnya kejahatan.

Selama mencari uang jajan sendiri, Fauna memang marasakan bahwa waktunya untuk bermain dengan teman-teman sebaya sangat berkurang. “Ini akibat saya punya keinginan,” kata dia.

Ya, sejak kelas tiga sekolah dasar diakui Fauna waktu bermain dengan teman sebayanya banyak yang hilang. Ia memanfaatkan waktu di luar jam-jam sekolah dan pramuka untuk mencari uang jajan sekaligus menambah uang tabungannya.

“Bagaimana lagi, hayo! Orang tua saya tidak mampu membelikan sepeda. Jalan satu-satunya ya saya harus mencari uang sendiri,” Fauna berkisah.

Setelah memiliki sepeda, Fauna ternyata lebih tertantang untuk menaikkan rangking di kelas. Ia bertambah rajin ke sekolah. Ia semakin jarang dihukum guru karena datang berusaha lebih cepat. Lain itu, ia semakin pula rajin membaca buku pelajaran serta rajin meminjam buku di perpustakaan sekolah.

Kurang puas terhadap buku-buku yang tersedia di perpustakaan sekolah, Fauna mencoba kirim surat ke kedutaan-kedutaan asing. Bahkan ia juga sempat berkirim surat ke berbagai stasiun radio asing siaran Bahasa Indonesia antara lain Radio BBC London, VOA Amerika Serikat, Nike Jepang, dan sebagainya.

Balasan surat-surat dari luar negeri diperoleh Fauna, berisikan foto-foto dan ringkasan cerita terkait negara mereka sana. Hal itu menarik perhatian Fauna. Rasa ingin tahu negara lain makin bermunculan di benaknya.

1CPNS pendaftaran di Pos dan Giro Batam Centre3 f Cipi Ckandina.jpgSisi lain, keyakinan Fauna bertambah bahwa melalui banyak membaca akan menambah luas cakrawala berpikir. Dengan membaca, ilmu pengetahuan bertambah; Ilmu pengetahuan yang diperoleh tentu bukan hanya melalui pelajaran-pelajaran sekolah saja melainkan juga dari keaktifan dirinya membaca.

Dalam pandangan Fauna, dengan membaca waktu tidak akan terbuang percuma. “Pokoknya, manfaat membaca itu banyak sekali. Mulai bacaan yang kita sukai sampai berbagai macam bacaan sangat saya rasakan manfaatnya,” ungkap Fauna.

Meski pada mulanya bacaan yang paling disukai Fauna adalah cerita-cerita petualangan, lambat laun bacaannya meluas ke pelbagai buku yang berceritera tentang ilmu pengetahuan. Bahkan, membaca kemudian menjadi hobi Fauna. Hobi terakhir ini, lebih ia rasakan tatkala dirinya telah duduk di kelas tiga SMP.

Bila membaca cerita-cerita tentang petualangan anak manusia, Fauna memang begitu meresapi dan menghayati. Tak jarang ia membayangkan bahwa dirinya sebagai tokoh utama dalam cerita di buku yang sedang dibacanya.

Begitu besar kiranya obsesi Fauna untuk berpetualang. Bahkan, keinginannya untuk keliling dunia kian waktu kian tumbuh dan menguat dalam dirinya. Pikiran-pikiran dengan kendaraan apa yang digunakan untuk keliling dunia makin pula menjadi pertanyaan dalam dirinya sendiri.

Munculnya tekad untuk berkeliling bumi, menyembulkan rasa keingintahuan atas daerah dan wilayah dari berbagai negara di dunia. Ia bahkan ingin melihat dari dekat tempat-tempat bersejarah di suatu negara yang mungkin kelak dapat dikunjungi. Ia pun ingin merasakan atsmosfir adat dan budaya suatu daerah atau suatu negara sehingga kelak mampu menceritakan keadaan sebenarnya.

Disamping itu, ia ingin juga berkenalan dengan berbagai bangsa di dunia, menjalin persahabatan, sekaligus menimba pengalaman menarik dan berharga dari yang sempat ia kunjungi, lihat, amati, dan rasakan.

Bersambung : 3. Menjiwai Kepramukaan (2)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.