2
Kelas Enam Geal-Geol (2)
Ibu dan beberapa kakak Fauna bahkan turut menyaksikan uang yang dikumpulkan Fauna sedikit demi sedikit itu. Kepada ayah dan ibu ia ceritakan keinginan punya sepeda. Dan hitung punya hitung, hasil tabungan itu rasanya cukup untuk membeli sebuah sepeda.
Maka dengan didampingi sang ibu, Fauna berangkat ke Pasar Taman Sari Serang untuk membeli sepeda yang disukainya. Fauna tak kecewa meski uangnya tidak cukup untuk beli sepeda baru model terbaru. Bahkan, untuk dibelikan sepeda mini second (bekas pakai) saja masih harus ditambahin sedikit lagi oleh sang ibu.
Model sepeda yang dipilih Fauna adalah sepeda mini warna merah muda. “Meski beli bekas, tapi sepeda itu bagus,” cetusnya. Fauna memang sudah paham mengenai sepeda, karena ia punya pengalaman di bengkel sepeda Pak Memed.
Pada saat sudah duduk di kelas enam SD itulah Fauna lantas memperlancar naik sepeda. Ya! Sebelumnya, ia sempat belajar dengan sepeda kecil beberapa kali. Belajarnya saat-saat mendekati membongkar tabungan dan membeli sepeda.
Ia sempat belajar diam-diam dengan disaksikan dan diizinkan temannya bernama Ong Hwan. Beberapa kali ia belajar dengan menggunakan sepeda untuk balita di rumah teman sekolahnya itu.
Alkisah, anak keturunan Cina itu punya sepeda semasa Ong Hwan masih balita. Fauna berani memakai sepeda yang ukurannya sangat kecil itu hanya di pekarangan rumah, selain itu diizinkan dan diawasi Ong Hwan sendiri.
Hal lain, sepeda yang telah lama tidak dipakai tidak beresiko tinggi bila digunakan untuk belajar. Apalagi, niatan Fauna hendak beli sepeda sudah mendekat. Ia pikir akan lucu kalau nanti beli sepeda dirinya belum bisa menaikinya.
Keberanian Fauna memakai sepeda temannya untuk pertama kali belajar, kiranya telah cukup beralasan. Hanya memang ada sedikit malu pada Ong Hwan, karena belajar sepeda di rumah dia dan yang dipakai sepeda kecil ukuran untuk anak balita. Fauna sudah kelas enam SD, kan?
Pada masa-masa akhir 1960-an dan awal 1970-an sepeda masih merupakan alat transportasi utama, terutama bagi orang-orang desa; Dan kala itu belum musim sepeda berukuran mini. Anak-anak zaman itu, biasanya baru bisa bersepeda saat usia 10 tahunan.
Pada pertengahan 1970-an, barulah terlihat orang memakai sepeda berukuran mini. Itu pun belum terlalu kecil melainkan berukuran kecil sedikit dibanding dengan sepeda tahun-tahun sebelumnya.
Mulai pertangahan 1970-an, anak-anak usia sekitar 6 hingga 8 tahun umumnya sudah pandai bersepeda.
Sedangkan sepeda berukuran lebih kecil lagi, yang biasa dipakai anak usia 4 – 5 tahun atau balita seperti yang dimiliki Ong Hwan pada awal 1970-an masih langka. Hanya anak-anak orang kaya biasanya yang punya.
Akan tetapi, memasuki tahun 1990-an sepeda jenis kecil untuk balita sudah meluas di pasaran dan orang berekonomi menengah sudah banyak membelikan sepeda jenis ini untuk anak balitanya.
Misalkan Fauna baru mulai belajar bersepeda kelas VI SD atau usia 11 tahun, kalau pada era sekarang, boleh dibilang terlambat. Namun, karena masa kecil Fauna tahun 1960-an hingga awal 1970-an, maka hal itu bisa saja dianggap biasa.
Akan tetapi, kala itu Fauna sudah mempunyai prinsip yang kuat dalam hidupnya. Ia sangat menjunjung tinggi pesan kedua orang tuanya, sehingga tak berani memakai barang orang lain.
Atas kepatuhan dalam rangka menaati pesan kedua orang tua, Fauna merasa tidak pernah menemui kesulitan. Pesan orang tua yang bersifat larangan agar jangan menggunakan barang yang bukan milik sendiri alhasil ia pandang sebagai sebagai kasih sayang belaka.

Taman Sari dan sekitarnya dijepret dari udara
Ia tak pernah merasa sakit hati atas larangan itu. Bahkan kemudian larangan itu dianggapnya sebagai pendorong diri untuk mampu berprestasi di sekolah sekaligus berusaha berbuat baik kepada siapapun…!
“Tidak mengusik milik orang lain, sama dengan kita ikut menjaga milik mereka dari kerusakan,” kata Fauna. Prinsip seperti inilah yang tertanam dalam di kalbunya. Prinsip hidup tersebut ia temukan karena ia dilarang menggunakan barang milik orang lain.
Ketika kemudian Fauna berani memakai barang milik Ong Hwan untuk belajar bersepada, ia tentu sudah memiliki alasan kuat yaitu dirinya akan segera bambongkar tabungan dan membeli sepeda.
Keberanian Fauna memakai benda itu, karena juga disebabkan yang empunya sudah tidak memakainya lagi. Ong Hwan mengawasi dan mengizinkan. Belajar bersepeda dengan sepeda ukuran untuk balita itu, sebatas di pekarangan rumah Ong Hwan yang berpagar tinggi.

Salah satu model sepeda mini
Tat kala sudah membeli dan memiliki sepeda sendiri, Fauna mengaku harus belajar keseimbangan dengan sepeda yang lebih besar miliknya. Ia pun tak ragu lagi untuk memperlancar dan membawa sepeda yang baru dibelinya melalui jalan raya.
Meskipun saat itu bersepeda masih geal-geol namun ia tetap berusaha menaiki sepedanya. Ia bersyukur karena tanpa hambatan berarti, ternyata mampu mengayuh sepeda mini merah muda itu hingga rumah.
Pada saat kelas enam itulah Fauna baru mulai lancar bersepeda….
***
Bersambung: 3 Menjiwai Kepramukaan (1)