1
TANGIS BAYI DI KOTA SERANG (1)
PADA TANGGAL 20 Juni 1963, tangis seorang bayi laki-laki yang baru lahir itu membahana. Adalah tangis yang seakan mengabarkan betapa berat tantangan hidup dunia. Hanya saja, kelahiran anak manusia atau makhluk apapun merupakan kehendak Yang Maha Kuasa.
Seorang anak laki-laki yang lahir dari rahim seorang ibu bernama Ma’azah Sumadirdja tersebut adalah putera yang keenam. Kemudian bayi itu diberi nama Fauna Sukma Prayoga.
Ayah dari sang bayi ini Sukra Prawira Sentana yang kesehariannya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada Badan Pelaksana Pengairan di Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Keluarga ini hidup dan tinggal di Ibukota Kabupaten Serang Propinsi Jawa Barat (kini, Kota Serang sudah menjadi Ibukota Propinsi Banten).
Rumah tinggal kel
uarga besar Sukra Prawira tepatnya di Jalan Saleh Baimin, Gang Sutomo Nomor 15, Cimuncang, Intirub Taman Sari, Serang. Rumah itu hanya berjarak sekitar 100 meter saja dari Stasiun Kereta Api Kota Serang.
Lokasi tempat tinggal tersebut, jelas, dekat dengan tempat transit orang-orang bepergian, terutama yang bertransportasi ketera api.
Sisi lain, lokasi ini dekat sebuah taman umum yaitu Taman Sari yang setiap sore ramai dikunjungi warga sekitar maupun pendatang. Taman ini, pada zaman Belanda kabarnya disebut Wilhelmina Park.
Rasa suka cita dari kedua orang tua sang bayi, mencuat di raut wajah masing-masing. Kedua orang tua tersebut menaruh harapan agar kelak puteranya dapat berguna bagi kemajuan dan kejayaan Bangsa dan Negara Indonesia.
Harapan yang sangat dalam begitu mengalir dalam setiap doa mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar Fauna –-begitu kemudian sang bayi disapa— kelak memiliki pendirian yang teguh, punya prinsip, sekaligus kuat iman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala (SWT).
Harapan dan doa-doa kedua orang tua semacam itu, agaknya, tidaklah berbeda dengan yang lain, doa yang sama diperuntukkan juga kepada kakak-kakak Fauna.
Kakak tertua dari Fauna, laki-laki, bernama Koko Sukma Negara, kemudian Laksmi Sukma Wati (perempuan), Nikita Sukma Kelana (laki-laki), Evi Asfiah Sukma Dewi (perempuan), Indra Sukma Prayogi (perempuan), barulah putera keenam yaitu Fauna Sukma Prayoga. Beberapa tahun berikutnya, Fauna mempunyai seorang adik, Gemi Sukma.
Dari usia di bawah lima tahun (balita) hingga masa anak-anak, Fauna tumbuh normal sebagaimana layaknya anak-anak seusianya. Ia ikut bermain bersama teman-teman sebaya seperti main petak umpet, kejar-kejaran, gatrik, dampu, gobag, susun genteng, lempar bola, galasin, bola kaki, dan permainan lainnya. Lain itu, ia juga disekolahkan serta diperintah oleh orang tuanya agar rajin mengaji serta menjalankan ibadah.
Hidup di tengah-tengah Kota Serang Banten, keluarga Sukra Prawira Sentana tidaklah lepas dari kekurangan ekonomi. Ya, keluarga Fauna bukanlah dari kalangan orang yang memiliki harta melimpah melainkan kekurangan-kekurangan ekonomi selalu saja mendera mereka.
Akibat dari kekurangan-kekurangan itu, waktu-waktu bermain Fauna pun menjadi kurang. Hal ini lebih dirasakan Fauna ketika dirinya duduk di kelas tiga sekolah dasar (SD). Betapa tidak. Jangankan ia punya sepeda untuk ke sekolah, sedangkan uang jajan yang tidak seberapa nilainya pun sulit diperoleh dari orang tuanya.
“Oala Fauna…, masih bisa makan saja kita sudah syukur. Ibu punya uang dari mana lagi?” Begitulah jawaban Ibu Ma’azah ketika Fauna merengek minta uang jajan saat hendak berangkat ke sekolah.
Mendengar jawaban sang ibu seperti itu, hati Fauna menjadi sangat miris. Bahkan tidak jarang air mata anak lelaki itu menetes. Sedih alang kepalang. Kalbunya kadang terasa teremas-remas.
Kadangkala, muncul juga rasa iri dari perasaan Fauna, mengapa ia dilahirkan dari rahim seorang ibu yang keadaan ekonominya cenderung kekurangan? Dan, kalbunya juga kadang digayuti pertanyaan; mengapa ia lahir dan hidup di tengah-tengah keluarga seperti ini?
Untunglah jika rasa iri itu tidak terus berkobar dalam kalbu Fauna. Nasihat-nasihat ayah, ibu, guru-guru, dan kalangan keluarga yang lebih tua begitu cepat ia resapi. Hal itu membuat dirinya tidak ingin larut terus-menerus dalam kesedihan meski ia tidak memperoleh uang jajan.
Ia pun dengan gegap gempita alias penuh semangat berangkat ke sekolah seperti biasa. Berjalan kaki dan tanpa sarapan pagi sekalipun misalnya, tak lagi jadi penghalang.
Bersabung: 1. Tangis Bayi di Kota Serang (2)